Kualitas
lingkungan bahasa sangat penting bagi keberhasilan pembelajar dalam mempelajari
bahasa kedua (Dulay, 1982:13). Lingkungan
bahasa adalah segala hal yang didengar dan dilihat oleh pembelajar terkait
dengan bahasa kedua yang sedang dipelajari. Adapun hal yang tergolong kepada lingkungan bahasa adalah situasi di
rumah ketika nonton televisi, percakapan dengan kawan-kawan, kegiatan proses
belajar mengajar di kelas, dan sebagainya.
Secara umum lingkungan bahasa dapat dibedakan menjadi dua, yakni:
1.
Lingkungan
formal yang dijumpai dalam proses belajar mengajar;
2.
Lingkungan
informal yang dijumpai di luar proses belajar mengajar.
Artinya untuk menguasai bahasa kedua pembelajar dapat
menggunakan dua cara yakni melalui proses pembelajaran dan melalui proses
pemerolehan. Pembelajaran merupakan proses yang disadari dan bertitik berat
pada perhatian pembelajar pada bentuk bahasa atau struktur. Sedangkan
pemerolehan merupakan proses yang serupa pada saat menerima bahasa pertama.
Pemerolehan berlangsung sejalan dengan aktivitas yang tidak disadari oleh
pembelajar.
Pemerolehan bahasa kedua secara terpimpin merupakan
pembelajaran bahasa yang dilakukan di dalam lingkungan formal, salah satu contohnya
seperti pembelajaran bahasa di dalam kelas.
Adapun ciri-ciri pendidikan
formal adalah sebagai berikut:
1.
Pendidikan
berlangsung dalam ruang kelas yang sengaja dibuat oleh lembaga pendidikan
formal;
2.
Guru adalah
orang yang ditetapkan secara resmi oleh lembaga;
3.
Memiliki
administrasi dan manajemen yang jelas;
4.
Adanya
batasan usia sesuai dengan jenjang pendidikan;
5.
Memiliki
kurikulum formal;
6.
Adanya
perencanaan, metode, media, serta evaluasi pembelajaran;
7.
Adanya batasan
lama studi;
8.
Kepada
peserta yang lulus diberikan sertifikat;
Jadi ketika pembelajar melaksanakan pembelajaran bahasa
kedua di dalam lingkungan formal, pembelajar dibantu oleh guru yang senantiasa
dapat memberikan materi, dorongan, dan umpan balik serta dapat menjadi lawan
untuk mempraktekkan kemampuan bahasa kedua yang sedang dipelajari. Maka dari
itu guru atau pihak lembaga dituntut untuk menyediakan bahan ajar, strategi
belajar mengajar, media, dan alat evaluasi yang sangat menunjang dalam pembelajaran
bahasa kedua. Ada tiga hal yang dianggap sangat penting dan
mendasar dalam proses belajar bahasa
dalam lingkungan formal, yaitu:
1.
Belajar
bahasa adalah orang;
2.
Belajar
bahasa adalah orang-orang dalam interaksi dinamis;
3.
Belajar
bahasa adalah orang-orang dalam responsi.
Artinya pemerolehan bahasa bersamaan dengan
proses yang digunakan oleh pembelajar
dalam pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan
bahasa menuntut interaksi yang berarti dalam bahasa sasaran yang merupakan
wadah para pembicara memperhatikan bukan bentuk ucapan-ucapan mereka, akan tetapi pesan-pesan yang
mereka sampaikan dan mereka
pahami. Perbaikan kesalahan dan pengajaran kaidah-kaidah eksplisit tidaklah
relevan bagi pemerolehan bahasa, tetapi para guru dan para penutur asli dapat
mengubah serta membatasi ucapan-ucapan mereka kepada pemeroleh agar menolong mereka untuk memahaminya. Modifikasi-modifikasi
ini merupakan pikiran untuk membantu proses pemerolehan tersebut.
Pada lingkungan formal pembelajar lebih terarah dan
terkonsep sesuai dengan tahapan pemerolehan bahasa. Hal itu disebabkan oleh
adanya keteraturan penyusunan program dan acuan bahan ajar, yang dipelajari
sesuai dengan kebutuhan peserta didik, mulai dari tingkat dasar, madya, hingga
tingkat lanjut.
EmoticonEmoticon